Bacalah...cerita membosankan


Senin, 19 Agustus 2019 
     Pagi yang indah untuk memulai kegiatan seperti biasa. Dengan ditemani segelas kopi, saya asik bergurau dengan teman saya. Berpostur tegap, berbadan kurus, dan yang paling mencolok dari dirinya adalah ia botak. Fakultas teknik menyuruh kepada setiap maba fakultas tenik laki-laki untuk mencukur rambutnya sepanjang 1cm sehingga terlihat botak. Teman saya dengan bangga menunjukan kebotakannya agar orang lain tahu bahwa ia masuk ke fakultas teknik yang sangat dibanggakan.
     Banyak para orang-orang yang memiliki status besar menganggap bahwa rambut mencerminkan kepribadian seseorang. Seperti laki-laki berambut botak, mereka berpikir bahwa seseorang dengan berambut botak memiliki sikap yang sama dengan tentara yaitu tegas dan berani. Namun kenyataannya tidak seperti itu, banyak juga orang yang berambut botak dibalik jeruji besi. Mengapa mereka berpikir seperti itu? Hal itu menurut saya pribadi kurang benar yang menyebabkan banyak kelompok-kelompok berpikir seperti itu.
    
     Seseorang berambut gondrong juga tidak masalah tetapi karena prespektif mengenai rambut botak membuat sebagian orang menganggap bahwa orang tersebut kurang baik. Padahal di tempat dimana banyak penjahat dihukum, tidak ada dari mereka yang berambut gondrong. Oleh karena itu, kita harus berpikir untuk tidak memandang seseorang dari penampilan saja tetapi kita harus memandang bagaimana tingkah laku orang tersebut.

Selasa, 20 Agustus 2019
     Jingga mewarnai langit yang luas yang menuntut saya untuk segera kembali kepondok untuk melaksanakan kegiatan wajib dipondok yaitu sholat Magrib berjama'ah. Dengan mengendarai sepeda motor kesayangan, saya kembali kepondok dengan rasa jenuh. Kejenuhan karena saya masih ingin nongkrong di warung sehabis pulang dari kuliah yang membosankan. Waktu nongkrong berkurang karena terdengar suara lantunan pujian.
     Pada saat itu, saya sempat berpikir bagaimana jika saya tidak kembali kepondok dengan berbagai alasan. Namun, saya tetap kembali ke pondok karena saya lupa cas handphone saya ketinggalan dipondok. Setelah sampai dipondok, saya langsung mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat Magrib sebagai kewajiban umat muslim.
     Dengan sholat kita bisa memanjatkan keluhan dan keresahan kita kepada tuhan serta berdoa agar keinginan kita dapat dikabulkan oleh tuhan. Namun, saya tidak seperti itu. Saya berpikir dengan mengikuti kegiatan pondok, saya bisa mengambil cas dan dapat kembali ke warung tanpa khawatir akan hukuman yang diberikan pondok kepada saya apabila tidak mengikuti kegiatan wajib dipondok.

Rabu, 21 Agustus 2019
     Pagi yang cerah dan sangat baik untuk kita melakukan aktivitas. Makan 4 sehat 5 sempurna adalah makanan yang tepat dinikmati ketika pagi hari. Itulah yang saya makan ketika nokrong di kantin belakang masjid kampus. Sambil menikmati pemandangan, saya melihat mahasiswa dengan bangga menunjukan almameter yang ia kenakan.
  
     Identitas adalah hal yang penting untuk menunjukan siapa orang tersebut. Namun, kenyataannya tidak seperti itu. Banyak orang dari berbagai perbedaan melakukan peperangan. Bahkan di antara sekolah, siswa sekolah juga melakukan kekerasan yang biasa disebut dengan tawuran. Mengapa hal tersebut terjadi? Dan apa yang harus kita lakukan apabila terjadi hal tersebut?.
     Dalam hati saya bertanya-tanya. Apakah karena identitas yang berbeda, oleh karena itu mereka ingin menunjukan bahwa kelompok mereka adalah yang paling baik. Padahal negara kita berlandaskan pada Pancasila yang salah satu isinya mementingkan adanya persatuan. Kalo hal itu terjadi mengapa kita kok tidak mengapus identitas kita dan diganti dengan identitas yang sama dengan yang lain agar kita tidak berkonflik. Hal itu lah yang masih tidak bisa saya jawab hehehhe....

Kamis, 22 agustus 2019
     Pagi yang cerah dan sangat baik bagi kita untuk melakukan aktivitas. Bersama 3 orang teman pondok saya, kami berjalan menuju warung untuk memenuhi kebutuhan biologis yaitu makan. Kami berjalan dan berkomunikasi yang menunggunakan bahasa tercinta yaitu bahasa Indonesia. Kebetulan, kedua teman saya adalah orang Madura dan saya adalah oramg Surabaya. Jadi apabila mereka berdua berkomunikasi mereka menggunakan bahasa Madura yang saya tidak pahami
     Dengan rasa ingin mengetahui, saya mendengarkan kedua teman saya yang berbincang menggunakan bahasa Madura. Namun, saya masih tidak dapat mengetahui apa yang sedang didiskusikan mereka. Saya takut bahwa mereka berbincang mengenai hal yang buruk tentang saya karena mereka berdiskusi sambil melirik kepada saya oleh karena itu, saya bertanya kepada mereka apa yang mereka diskusikan. Ternyata mereka berdiskusi mengenai bagaimana kehidupan mereka sebelum jadi mahasiswa.
     Bahasa memang penting untuk berkomunikasi. Namun, kita harus menggunakan bahasa yang bisa dimengerti oleh lawan bicaranya agar tidak terjadi miss komunikasi. Percuma apabila kita benar memakai bahasa yang kita kuasai namun tidak dikuasai oleh orang lain.

Jumat, 22 Agustus 2019
     Hijau dan hijau, itulah yang saya lihat di televisi ketika selesai melaksanakan sholat Isya. Dalam tayangan televisi, banyak penonton sepak bola dari tim Persebaya dari Surabaya. Saya berasal dari surabaya oleh karena itu, saya mendukung tim kesebelasan Persebaya untuk memenangkan pertandingan sepak bola. Bukan hanya di stadion saja yang ramai, diwarung kopi pun juga ramai. Banyak pengunjung untuk bersama-sama menonton Persebaya.
     Di televisi kita dapat dengan jelas melihat bagaimana dengan jalannya pertandingan tanpa harus repot-repot menonton secara langsung di stadion. Kita tidak harus mengeluarkan tenaga untuk mengeluarkan sejumlah uang  yang kita peroleh dari bekerja atau meminta kepada mama papa tercinta. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk memanfaatkan uang tersebut hal itu yang saya pikirkan.
     Dalam kehidupan zaman sekarang, mencari uang cukup susah dan mengapa masih banyak orang yang menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak berguna. Bukankah lebih baik digunakan untuk membeli rokok bagi perokok dan untuk membeli minuman untuk pemabuk. Banyak hal yang bermanfaat yang bisa kita lakukan apabila mempunyai uang.

Sabtu, 23 Agustus 2019
     Remuk dan lemas, hal itu yang sedang saya rasakan ketika malam hari. Berjalan melihat pepohonan yang tumbuh tertata di sepanjang pinggir jalan. Darah juang mengalir deras yang membuat saya tetap kuat untuk berjalan dari taman bungkul hingga Pulo Wonokromo. Namun, saya anggap sebagai olah raga untuk memperkuat otot kaki.
     Banyak kendaraan sepeda motor melaju berbaris. Salah satunya ada yang membawa bendera yang bergambar lambang komunitas pecinta sepeda motor. Komunitas apaan itu? Pikir saya dalam otak. Mereka hanya bikin polusi dan membuang Sumber Daya Alam yang tidak dapat diperbaharui secara percuma. Sangat merugikan menurut saya. Komunitas didirikan untuk bermanfaat bagi orang lain bukan malah menjadi merugikan untuk orang lain.
     Komunitas yang baik menurut saya adalah komunitas yang bisa memberikan manfaat baik bagi anggota maupun orang lain. Tetapi mengapa ada komunitas yang didirikan padahal memberikan dampak negatif kepada orang lain. Suara bising motor yang mengganggu, pencemaran udara, menghabiskan sumber daya alam dan lain-lain.

Minggu, 24 Agustus 2019
     Bau amis dan rasa ngantuk menemani perjalanan ketika proses mengerjakan tugas dari yang mulia. Saat itu saya melihat ada dua orang ibu-ibu yang merdebat sengit untuk mencoba menawar harga yang diberikan penjual. Mereka menuntut harga yang lebih murah dari harga sebelumnya yang membuat penjual tersebut merasa jengkel
     Tawar menawar adalah kegiatan yang biasa dilakukan seseorang ketika di pasar. Dengan modal berbicara tegas dan berani, kita bisa mendapat untung dari kegiatan tawar menawar tersebut. Namun, sejujurnya saya merasa kasihan kepada penjual yang keuntungannya semakin sedikit. Rasa egois pingin untung memang selalu menjadi landasan dalam berdagang
     Dengan keuntungan yang sedikit bagaimana penjual tersebut dapat mencukupi kehidupannya padahal kebutuhan semakin mahal, itulah yang saya pikirkan ketika melihat penjual tersebut. Apakah cukup bagi menyekolahkan anak mereka dan apakah cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri? Dari hal tersebut saya belajar bahwa manajemen sangat penting sebagai pedoman kita untuk bertahan hidup

Senin, 25 Agustus 2019
     Pagi yang indah dan cukup bermanfaat bagi kita untuk memulai aktivitas. Pada saat itu saya sedang perjalanan menuju Fakultas Hukum. Lingkungan yang asri memang bikin sejuk dihati. Sambil menikmati indahnya sekitar, saya melihat ada mahasiswa yang membuang sampah sembarangan. "Bodoh, merusak pemandangan saja" pikirku.
     Tempat sampah di kampus sudah tersedia. Bahkan, di setiap fakultas juga memiliki tempat sampah. Namun, mengapa masih ada seseorang bahkan yang namanya mahasiswa sebagai agent of change masih saja membuang sampah sembarangan. Rumput-rumput hijau tidak terlihat karena tertutup oleh sampah. Saya merasa iba kepada petugas yang membersihkan sampah-sampah itu
     Padahal bukan ia yang membuang sampah tetapi mengapa ia harus repot-repot untuk membersihkan sampah tersebut. Memang ia di bayar, tetapi apakah hal itu yang bisa menjadi alasan untuk kita membuang sampah sembarangan. Tapi, kalau mereka tidak membuang sampah sembarangan, pekerjaan apa yang dilakukan orang tersebut. Apakah hanya duduk-duduk dan dibayar. Sebenarnya saya masih bingung mengenai hal tersebut.

Selasa, 26 Agustus 2019
    
    Terik panas matahari membuat hariku semakin panas. Saat itu saya sedang berbincang dengan teman sekelas saya dari fakultas ilmu hukum. Hal-hal hebat yang kami bicarakan membuat suasana yang panas semakin panas. Dengan dibumbui berbagai canda tawa sebagai pendingin agar tidak berlebihan panasnya. Ormek, hal itulah yang kami bahas.
     Teman sebayaku adalah anggota dari salah satu Ormek atau biasanya disebut Organisasi Ekstra Kampus. Dia bercerita bagaimana dan apa saja yang terjadi pada kegiatan Ormek. Dia mengatakan bahwa tujuan organisasinya itu baik dan tidak bermaksud untuk merugikan siapapun. Memang sih karena organisasi dibentuk untuk bertujuan baik.
     Banyak Ormek-ormek yang ada di kampusku. Namun, saya tidak mengikuti salah satu pun dari mereka. Menurut saya apabila ormek-ormek tersebut mempunyai tujuan yang sama mengapa mereka tidak digabung saja, kok malah pisah. Ketika saya bertanya kepada teman sebaya saya dia mengatakan kalau jalannya berbeda oleh karena itu tidak dapat disatukan. Apakah tidak bisa saling toleransi? Kan didalam pancasila mengutamakan persatuan. Hal itulah yang membuat pikiran ku semakin panas.

Rabu, 27 Agustus 2019
 
     Kegelapan menyelimuti langit malam yang menemaniku dalam perjalanan kembali ke pondok. Suasananya cukup menyeramkan karena sepi tidak ada orang. Pepohonan kering menghias di pinggir jalan. Suara jangkrik yang membuat bulu kuduk ku semakin merinding ketika saya melalui jalan menuju pondok. Daerah ini juga rawan dan sering terjadinya pembegalan.
     Tempat yang sepi seperti ini membuat pikiranku meluncur kearah yang negatif karena takut adanya pembegal. Malam hari adalah waktu yang tepat untuk mereka melancarkan aksinya. Hal itu membuat keamanan disaat malam hari semakin menipis. Pihak kepolisian juga ditugas kan untuk berpatrol di daerah itu. Namun, para polisi ternyata sudah tertidur duluan dan tidak melaksanakan tugas nya dengan baik karena masih banyak mahasiswa terutama bagi kaum hawa yang sering menjadi korban.
     Menjaga diri sendiri adalah hal yang baik untuk menghindari adanya kejadian yang tidak di inginkan. Kita tidak harus selalu mengandalkan pihak berwajib untuk menjaga keamanan. Mereka juga punya keluarga yang harus dilaksanakan. Banyak orang mengatakan adanya kesempatan adalah awal mula terjadi tindak kejahatan oleh karena itu, kita harus waspada agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.

Kamis, 28 Agustus 2019
    
    Kuning mewarnai keramaian di pondok. Dengan berbaris rapi untuk bergantian memakai kamar mandi. Rasa tergesa-gesa mengikuti setiap langkah ku karena pada saat itu saya berada di antrean terakhir. Hal ini sudah biasa terjadi dalam kehidupan pondok yang mewarnai kharisma akan namanya tempat pendidikan pesantren.
     Saya sebenarnya ingin marah kepada pengurus pondok karena disinikan saya bayar tapi mengapa untuk mandi saja kok harus mengantre begitu lamanya. Mengapa kok tidak ditambahi fasilitas kamar mandi. Rasio dipondok yang saya tempati antar adanya kamar mandi dan santri adalah 5:39. Memang pengurus pernah mengatakan agar tidak antre lama apabila sore hari, kita harus bergegas untuk mandi. Namun hal tersebut menurut saya kurang benar.
     Mahasiswa memiliki jam yang cukup padat. Tugas dan menghadiri mata kuliah adalah hal yang wajib dilakukan oleh setiap mahasiswa. Terkadang mahasiswa mempunyai jam sore untuk menghadiri mata kuliah dan ada pula jam pagi. Oleh karena itu, seharusnya pondok tidak mengekang mahasiswa dengan pola pikir seperti itu, atas nama menghadiri mata kuliah dan mengerjakan tugas

Jum'at, 29 Agustus 2019
   
    Keramaian membuat gedung rektorat kampus semakin gaduh. Para mahasiswa yang bergerombol masuk gedung, hal itu lah yang saya lihat ketika sambil santai melewati gedung rektorat menuju FoodCord. Hanya satu orang yang membuat mahasiswa berkumpul bersama, beliau adalah Rocky Gerung. Merelakan uang saku demi mendengarkan apa yang disampaikan beliau.
     Saat itu saya tidak ikut hadir dalam kegiatan tersebut karena pada saat itu kondisi perekonomian saya sedang di ambang batas. "Hanya satu orang memiliki pengaruh yang besar bagi mahasiswa hebat" pikirku. Seperti halnya seekor ayam yang disuruh masuk kandang oleh peternak. Mereka yang memiliki status besar mempunyai pengaruh yang besar. Dengan mengatas namakan membagi ilmu membuat para mahasiswa tertarik.
     Ilmu sebenarnya dapat diperoleh dimanapun dan kapanpun, tetapi mengapa kita harus merelakan uang dan tenaga untuk memperoleh ilmu dari satu orang. Padahal mereka juga tidak mengetahui apa yang kita alami. Bahkan seperti pejudi juga dapat memberikan ilmu kepada kita bahkan lebih bermanfaat bagi kehidupan , tetapi mengapa hanya orang yang memiliki status saja yang diundang. Padahal hanya materi yang disampaikan dan belum tentu bermanfaat bagi kita." Sepertinya di UTM kekurangan orang cerdas " pikirku.

Sabtu, 30 Agustus 2019
  
    Uang, uang dan uang. Itulah yang saya pikirkan ketika perjalanan menuju rumah di Surabaya. Kondisi perekonomian sudah berada pada titik akhir. Untuk memenuhi kehidupa selama dua minggu di Madura, saya sangat membutuhkan kertas yang disebut uang untuk membeli kebutuhan saya. Kata orang-orang uang tidak bisa dibawa mati hanya amal dan ibadah lah yang dipertanyakan ketika di akhirat. Namun apa yang saya rasakan, hidup tanpa uang serasa ingin mati.
     Dengan mengandalkan segala akal dan pikiran, tujuan saya yaitu kembali ke rumah dan meminta kepada orang tua saya agar memberikan uang. Rasa malu menyelimuti darah disekujur tubuh saya. "Sudah menjadi mahasiswa kok masih meminta uang kepada orang tua" pikirku. Mau bagaimana lagi, tugas yang padat serta adanya kegiatan untuk menghadiri mata kuliah membuat waktu saya tidak cukup untuk melakukan pekerjaan.
     Kebutuhan hidup adalah hal yang dinomor satukan setiap individu. Oleh karena itu, hal yang saya lakukan adalah hal yang wajar. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, manusia rela melakukan apapun untuk mewujudkannya. Tanpa melakukan hal itu bagaimana kita bisa bertahan hidup, bahkan hal yang tabu pun rela dilakukan asal bisa memmenuhi kehidupannya.
Minggu, 31 Agustus 2019
  
     Pada pagi hari saya terbangun karena suara ayah saya yang mencoba membangunkanku untuk melaksanakan sholat subuh. Rasa kantuk menghiasi perjalanan saya menuju kamar mandi. Berjalan sempoyongan seperti orang mabuk, hal itu lah yang saya lakukan akibat rasa kantuk kurang tidur. Biasanya tidur orang normal adalah 8 jam, tetapi saya saat itu hanya memiliki waktu tidur sebanyak 4 jam.
     Banyak kardus tertata rapi dan berisikan mika kosong sebagai tempat untuk mengisi makanan. Saya langsung bergegas untuk melaksanakan kewajibab dari seorang anak yaitu membantu orang tua. Beliau mencari uang untuk memenuhi kehidupan. Setelah membantu, saya meminta uang kepada ibu untuk beli rokok. Namun, ibu saya berkata "minta uang tok ae bisanya" . Dalam pikiran, saya merasa jengkel padahal uang kan untuk memenuhi kebutuhan saya.
     Kewajiban orang tua kepada anak memang harus dilaksanakan. Namun, anaknya juga harus sadar dan ikut membantu orang tua untuk memenuhi kewajibannya. Memang terkadang orang tua berkata tidak enak dihati ketika kita meminta uang, tetapi ada maksud yang baik ketika orang tua mengatakan tersebut. Seperti yang dialami saya, orang tua saya tahu bahwa uang itu saya gunakan untuk membeli rokok oleh karena itu, mereka berbicara seperti itu kepada saya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL DRAMA MANGIR

Bentuk Kasih Sayang Seorang Nh. Dini

Misteri Kinerja Kemensos