RESENSI NOVEL DRAMA MANGIR

Judul              : Drama Mangir
Penulis           : pramoedya Ananta Toer
Penerbit         : Kepustakaan Populer                                Gramedia
Tahun Terbit   : 2015
Tebal buku     : 163

Novel drama ini ditulis oleh salah satu novelis terbesar di Indonesia, beliau adalah Pramoedya Ananta Toer. Beliau dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Beliau dikatakan sebagai salah satu pengarang yang aktif dalam sejarah sastra indonesia dikarenakan banyak dari novel yang dikarangnya yang tidak luput dari sejarah bangsa indonesia. 

salah satu novel yang memuat sejarah indonesia yaitu novel drama mangir ini. Novel drama Mangir ini ditulis pada tahun 1976. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing.

Novel drama ini menceritakan sebuah tempat bernama MangirTidak seperti daerah lainnya di kerajaan Mataram, Mangir merupakan daerah Perdikan atau daerah bebas pajak pada masa kekuasaan Panembahan SenopatiKarena hal ini Panembahan Senopati dibuat sedikit geram sehingga berencana untuk menakhlukan daerah Mangir.

Panembahan Senapati menggunakan berbagai cara seperti politik, ideologi, dan juga kekerasannya untuk memeperoleh kekuasaan tunggal atas Mangir bahkan dengan mengorbankan Putrinya sendiri yaitu Pambayun. Dalam drama Mangir ini, Panembahan Senapati menjebak Ki Ageng Mangir dan dengan segala caranya akhirnya ia berhasil membawa Ki Ageng Mangir ke Kerajaan Mataram.

Maksud dan tujuan Panembahan Senapati mengundang Ki Ageng Mangir adalah untuk membunuhnya berserta prajurit Perdikan Mangir. Panembahan Senapati akhirnya berhasil membunuh Ki Ageng Mangir, bahkan di depan Putrinya sendiri yang tidak lain adalah istri dari Ki Ageng Mangir dan memperoleh kekuasaan tunggal atas Mangir.

Banyak yang disajikan dalam novel drama ini. Tidak hanya berupa cerita tetapi juga menyajikan cara mempraktekan drama ini dalam seni teater. Pada awal saya membaca novel ini, saya merasa bahwa novel drama ini kurang menarik dan cukup membingungkan karena saya membaca tanpa membaca kata pengantar yang ada di novel. Tetapi ketika saya membaca Novel ini lagi mulai dari awal, saya merasa bahwa novel ini tidak hanya menarik namun membuat bulu kuduk merinding, hahaha. 

Pementasan karakter yang ditulis dapat dirasakan secara nyata dan geregetan. Dan saya rasa, pasti Sang Pramoedya juga tertarik dengan adegan yang ditulisnya sendiri oleh karena itu beliau memaparkan bagaimana adegan tersebut di praktekan di seni teater. Didalam kata pengantar novel drama ini terdapat pendapat dari berbagai kalangan cendikiawan mengenai pujian ditulisnya novel drama mangir ini dan juga berbagai pemikiran dari kalangan cendikiawan yang membuat saya bisa memikirkan bagaimana cara mendalami sifat karakter dari segi protagonis maupun antagonis. 

Novel ini cocok dibaca untuk diceritakan sebagai dongeng pengantar tidur serta banyak kesan dan sifat yang patut dicontoh dalam kisah ini untuk kalangan muda serta memandang hal positif yang dilakukan tokoh, baik tokoh tersebut melakukan hal yang dinilai tercela ataupun yang dilakukan dinilai sebagai hal yang baik. Okelah hal itu yang membuat novel tersebut sangat disarankan untuk dibaca. Selamat membaca....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bentuk Kasih Sayang Seorang Nh. Dini

Misteri Kinerja Kemensos