Bentuk Kasih Sayang Seorang Nh. Dini

Judul: Dari Ngalian Ke Sendowo
Penulis: Nh. Dini
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Cetakan pertama Mei 2015
Halaman: 242+vii
ISBN: 978–602–03–1651–2

Novel yang berjudul Dari Ngalian Ke Sendowo adalah novel menceritakan tentang pengalaman hidup seorang tokoh yang berperan besar dalam perkembangan dunia sastra di Indonesia, yakni Nh. Dini. Isi novel ini, tidak hanya menjelaskan prestasinya atau penghargaan dari menggeluti dunia sastra saja, bahkan dari pengalaman pribadi dalam kehidupan rumah tangganya pun diceritakan dalam novel tersebut. Al hasil, tidak dipungkiri membuat pembaca kagum dengan sosok Nh. Dini itu. 

Meskipun demikian, terdapat kejanggalan dalam novel tersebut. Pada umumnya, dalam sebuah novel non-fiksi, atau biasa disebut kisah nyata, sang penulis tidak menceritakan prestasinya sendiri, agar tidak terkesan sombong di mata pembaca. Namun, tidak demikian pada novel Dari Ngalian Ke Sendowo ini yang dimana Nh. Dini menceritakan kesuksesannya dalam dunia sastra, seperti: mendapatkan penghargaan di Prancis, Jepang dan berbagai negara lainnya, termasuk juga Indonesia. 

Oleh karena itu, apabila pembaca tidak mengenal Nh. Dini sebelum membaca novel ini kemungkinan akan merasa bahwa sang penulis begitu sombong. Membanggakan apa yang telah diraih. Maka, alangkah baiknya jika membaca buku tersebut harus mencari tahu siapa itu Nh. Dini dan latar belakang beliau menulis buku tersebut. 

Nurhayati Sri Hardini atau lebih dikenal dengan nama Nh. Dini adalah salah satu pegiat sastra, terutama pengarang tulisan, asal Indonesia. Wanita tersebut lahir pada tahun 1939 dan mulai menulis sejak tahun 1951. Sampai begitu produktifnya dalam berkarya, pada masa usia tua sekitar 80 tahunan, beliau masih aktif dalam menulis dan membagikan ilmunya kepada mahasiswa yang belajar kepadanya. Salah satu karyanya yang ia buat dalam masa tua ialah novel Dari Ngalian Ke Sendowo.

Beliau menulis buku tersebut berdasarkan pengalaman hidupnya, mulai dari tahun 2000 hingga 2005. Jika dikalkulasikan berdasarkan umurnya ia diperkirakan menulis novel ini pada umur 65 tahun-an. Bayangkan saja, ketika membaca novel tersebut seperti nenek yang penuh kasih sayang menasehati cucunya. Sehingga pada umur segitu, tidaklah mungkin beliau bermaksud untuk sombong atau membesarkan namanya karena tidak ada gunanya hal tersebut untuk beliau yang sudah tua. Jadi dapat dikatakan novel ini merupakan bentuk kasih sayang Nh. Dini kepada pembaca yang menggeluti dunia sastra

Berdasarkan dalam isi novel ini, Nh. Dini menceritakan pengalaman hidupnya mulai dari Ngalian hingga Sendowo. Sebenarnya tidak hanya menceritakan cerita perjalanan, seperti pada umumnya yang hanya terpacu pada perjalanan naik bis kota ataupun kereta. Namun dirinya menceritakan perjalanannya dari Ngalian yang berputar-putar hingga ke luar negeri dan berhenti pada Sendowo. Tidak hanya itu, bahkan pengalaman mencari seorang dan permasalahan dalam pembantu pun di ceritakan pada novel tersebut. 

Berdasarkan isi buku, Nh. Dini pernah mengalami kisah duka ketika dalam menangani sosok pembantu rumah tangga. Seperti mengalami pencurian, mendidik dan mengajarkan moral kepada pembantu. Dari sini dapat dikatakan bahwa Nh. Dini adalag sosok yang baik hati, meskipun berlagak seperti guru mengajarkan muridnya. Nyatanya, dalam cerita ini Nh. Dini begitu peduli dengan pembantunya, padahal kehidupan sehari-hari terkadang orang meremehkan seorang pembantu. Nampak jelas bahwa Nh. Dini ingin menuturkan kepada pembaca agar menghargai semua orang, termasuk pembantu

Ada juga salah satu kisahnya yang menarik, ketika beliau menjadi pemateri di suatu Universitas. Beliau menceritakan betapa sedikitnya honoranium yang ia peroleh, sekitar 200ribu rupiah dan uang tersebut hanya cukup untuk transportasinya saja. Beliau merasa dengan jumlah uang tersebut, dirinya tidak dihargai sebagai pengarang. Dari kejadian ini dapat dikatakan beliau sebagai mengarang mengharapkan penghargaan yang setimpal atas apa yang ia lakukan. 

Mungkin, ada sebagian yang menganggap bahwa tindakan tersebut tidak setia pada tujuan pemateri yang tulus memberikan ilmu pengetahuan kepada orang lain. Namun, jika dapat dipikirkan bahwa manusia sebenarnya ada benarnya. Tentu kita sebagai manusia mempunyai hati nurani ketika berhadapan dengan seseorang. Ada etika memberikan penghargaan yang mengimbangi agar terjalin harmonis antar sesama. Hematnya, sesama manusia harus saling menghargai dan biasanya bentuknya tidak sama antar individu sehingga kita perlu menyesuaikan.

Lanjut pada pembahasan cerita, sebenarnnya apabila ditinjau dari keuntungan, yang mendapat untung yang lebih besar ia lah pendengar, meskipun sang pemateri diberikan honorarium yang besar. Karena mendapatkan ilmu dan ilmu sendiri adalah suatu cara. Bisa jadi akibat ilmu yang diberikan, sang penerima dapat menerima uang yang lebih banyak dari pada honorarium yang diberikan. Kejadian tersebut juga dapat dikatakan sebagai saran, agar menghargai setiap pengarang. 

Syahdan, buku ini cocok sekali untuk dibaca oleh semua kalangan karena bahasanya mudah dipahami. Tidak hanya itu, novel tersebut juga memuat pesan moral yang patut ditiru oleh semua orang. Apalagi ketika kita mengetahui latar belakang sosok Nh. Dini, rasanya seperti anda didongengi oleh nenek. Rindu banget rasanya






Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL DRAMA MANGIR

Misteri Kinerja Kemensos