Cerita perjalanan

CERITA PERJALANAN PRADIKLAT
 Pada hari Sabtu, 24 Agustus 2019 saya bersama saudara-saudaraku, walaupun tidak berhubungan darah namun rasa kebersamaan yang membuat kami terikat seperti rantai yang kokoh sebagai saudara. Kami mengikuti kegiatan pra-diklat yang diadakan oleh LPMSM (Lembaga Pers Mahasiswa Spirit Mahasiswa) yang dimulai pukul 10:00, tetapi waktu mulai mundur dikarenakan sebagian anggota masih ada mentoring agama yang dimulai pukul 13:00. Pada saat para anggota sudah berkumpul kami mendapat amanah oleh anggota resmi LPMSM untuk berkumpul di perpustakaan lama. Suasana disana cukup menyeramkan dengan jaring laba-laba diatas langit ruangan dan lampu penerangan yang remang-remang membuat tempat itu menunjukan ingin di rawat. Kami berjalan menuju ruangan LPMSM. Saya melihat pintu yang terdapat beberapa coretan yang memberikan kesan cukup bar-bar anggota tersebut, ketika memasuki ruangan, saya melihat poster-poster dan lukisan yang terdapat di tembok ruangan yang dirasa cukup berantakan tempat tersebut. Tanpa memperdulikan hal berantakan disana, kami mulai berdiskusi mengenai materi yang pernah diberikan setiap pagi oleh anggota resmi LPMSM. Dengan beberapa pemikiran dari setiap individu yang berbeda, kami berselisih pendapat dan mencoba untuk menjatuhkan argumentasi dari setiap individu yang dikatakan melanggar peraturan yang dinamakan diskusi bersama. Meskipun dalam diskusi kami mencoba untuk menjatuhkan argumentasi individu lain, namun tidak mengurangi rasa kebersamaan kami karena kami sadar bahwa diskusi bersama bukan untuk mencari musuh tetapi, untuk mengikat lebih erat persaudaraan kami. Jam sudah menunjukan pukul 15:00 yang berarti menunjukan waktunya untuk sholat ashar. Kami berangkat bersama menuju masjid didepan Sekber, melalui jalan yang terdapat banyak daun-daun, ranting dan pepohonan menunjukan cukup asri jalan tersebut. Ketika sampai di pertigaan menuju masjid, saya dan Ario melihat pedagang pentol yang membuat hati tertarik untuk mengkomsumsi pentol. Setelah membeli pentol, saya dan Ario berpisah karena berbeda tujuan. Ario pergi ke masjid tetapi, saya pergi ke warung untuk ngopi sambil menunggu saudara-saudara sholat.Dengan uang yang saya miliki, saya membeli kopi dan krupuk untuk memenuhi kebutuhan biologis sambil menunggu saudara-saudara untuk menyelesaikan kebutuhan agama. Ketika pukul 16:00, kami berkumpul di Sekretaria LPMSM untuk mempersiapkan berangkat ke lokasi tujuan pra-diklat. Hal itu dilakukan di sana karena barang-barang kami ditinggal di Sekretaria LPMSM. Disana kami menyerahkan uang dan beberapa barang penting untuk menghindari adanya kasus kehilangan barang. Setelah itu, kami kembali ke perpustakaan lama untuk penyampaian informasi dan doa yang disampaikan oleh anggota resmi LPMSM. Lalu kami foto terlebih dahulu sebagai dokumentasi kegiatan pra-diklat dan diakhiri dengan doa. Matahari mulai kembali kehabitatnya untuk istirahat menyebabkan langit mulai kembali masuk kedalam kegelapan yang menuntut kita untuk segera berangkat melalui alat transportasi yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk bepergian. Kami mulai berjalan dimulai dari perpustakaan lama ke pertigaan lampu lalu lintas yang kurasa jauh apabila ditempuh dengan jalan kaki. Kami sudah berada sampai di pertigaan lampu lalu lintas dan melihat anggota resmi LPMSM menghentikan angkot. Pada awalnya, kami kaget bahwa kami akan pergi naik angkot karena kata anggota resmi LPMSM kita berangkat naik travel yang sudah disewa oleh mereka. Dengan sempitnya ruangan angkot, kami menggunakan akal agar angkot tersebut muat untuk 16 orang. Angkot terasa sesak karena kelebihan muatan yang seharusnya di isi oleh 10 orang namun, diisi oleh 16 orang. Meskipun begitu kami tidak keberatan agar semua saudara bisa berangkat bersama ke tempat tujuan yaitu Peabuhan Timur di Madura. Dengan uang saku yang diberikan sebesar Rp.50.000 oleh anggota resmi LPMSM kami berusaha untuk menghemat uang saku agar cukup untuk digunakan sampai selesai pra-diklat. Tembok putih yang kokoh menunjukan bahwa kami sudah sampai di gerbang Pelabuhan Timur, kami terus melanjutkan hingga dimana kami telah tiba di loket pembelian tiket kapal untuk perjalanan ke Surabaya. Sesampai turun, salah satu saudara saya yang bertanggung jawab untuk membawa uang saku berbicara kepada sopir angkot untuk menawar harga yang telah diberikan oleh sopir atas jasa transportasi yang telah diberikan. Kami menawar harga bukan berarti kami ingin mendapat keuntungan, melainkan untuk menghemat uang saku kami yang kurasa sedikit. Setelah itu, dia berjalan menuju loket untuk membeli tiket kapal, hal yang dilakukan sama yaitu menawar harga kapal menggunakan bahasa Madura. Dengan kecakapan dalam negoisasi, kami akhirnya mendapatkan harga yang cukup murah untuk membeli tiket kapal. Setelah membeli tiket, kami melihat besi besar yang berdiri diatas air dengan tegap, seketika kami bahagia karena tidak perlu lama untuk menunggu kapal karena kapal tersebut sudah sampai di Pelabuhan Timur. Kami langsung bergegas menuju kapal dengan hati-hati terhadap masuk atau keluarnya kendaraan dari kapal. Ketika memasuki kapal, saya melihat banyaknya penumpang, pedagang asongan, bahkan pengemis pun ada. Pengemis itu berpakaian lusuh, wajah yang memelas dengan postur badan yang pendek yang menunjukan pengemis tersebut masih anak-anak. Saat ia meminta uang ke saya, saya sebenarnya merasa simpati kepada pengemis itu namun, saya menekuk kedua siku dengan telapak tangan bersatu seperti salam yang menunjukan penolakan untuk memberikan uang. Saya tidak memberikan uang bukan karena saya pelit tetapi pada saat itu saya tidak membawa uang sepersen pun. Kapal tersebut menerima pengemis itu untuk mencari nafkah disana bukan berarti pihak kapal tidak profesional melainkan, mereka sadar akan kebutuhan hidup manusia yang saya rasa menggetarkan hati saya untuk memuji bagaimana pihak kapal menerima pengemis tersebut. Tanpa sadar, ternyata kapal sudah sampai di Pelabuhan perak Surabaya. Kami bergegas turun dan dengan hati-hati berjalan keluar dan berkumpul di tepat yang diarahkan oleh anggota resmi LPMSM. Disana saya melihat ada mobil polisi yang keluar masuk halaman tersebut demi menyelesaikan kewajiban untuk mengamankan didaerah yang telah ditugaskan. Daerah tersebut cukup jauh hingga memerlukan alat transportasi yang dibeli menggunakan uang rakyat. Jam sudah menunjukan sekitar pukul 19:00, agar tidak membuang waktu kami mulai diberikan tugas dan pembagian kelompok yang disampaikan oleh anggota resmi LPMSM. Setelah itu kami mencari angkot agar bisa sampai di tempat tujuan yaitu Tunjungan Plaza Surabaya. Dengan menunjukan ekpresi mencari angkot, kami didatangi oleh sopir yang menawarkan jasa transportasi. Sopir itu menawarkan harga yang mahal untuk digunakan jasanya, akibatnya negoisasi tidak dapat dihindari lagi. Dengan menggunakan akal dan pikiran kami akhirnya setuju dengan harga yang diberikan oleh sopir itu. Dengan berat hati akhirnya kami masuk ke dalam angkot untuk berangkat ke tempat tujuan yaitu Tunjungan Plaza Surabaya. Gedung pencakar langit yang berderetan dengan teratur dan rapi menunjukan betapa manfaatnya belajar ilmu Geografi bagi pemerintah yang mengatur pembangunan di area Surabaya. Meskipun menggunakan uang rakyat tetapi, hal itu digunakan untuk masyarakat Surabaya sendiri, walaupun celah-celah untuk melakukan penyelewengan wewenang semakin besar, tapi pemerintah sudah membuktikan hasil nyata bagaimana mereka melakukan pekerjaan mereka. Ada salah satu gedung yang bertuliskan Siola dan kami diturunkan oleh sopir disana. Sambil jalan-jalan melihat indahnya perkotaan, kami bergegas menuju Tunjungan Plaza. Dengan stamina yang masih banyak, kami telah sampai di Mall Tunjungan Plaza Surabaya. Tunjungan Plaza itulah yang saya lihat ketika sampai disana. Dekorasi ala barat dengan pengunjung berkulit putih dengan mata sipit yang mendominasi didaerah tersebut. Tanpa menunggu waktu yang lama, kami segera menyelesaikan tugas yang diberikan oleh anggota resmi LPMSM. Mengandalkan skill yang masih dasar, kelompok saya mulai mencari pengunjung, pemilik kios, satpam dan cleaning service untuk bertanya mengenai bagaimana kondisi ditempat mewah itu. Cukup sulit untuk meminta keterangan dari orang-orang itu karena sebagian pekerja tidak diperbolehkan oleh atasan untuk berbicara dengan pengunjung, ada yang malu dan ada yang merasa tidak penting berinteraksi dengan orang yang tidak diketahui. Setelah menyelesaikan tuntutan, kami memperoleh kesimpulan, bahwa sikap menghargai kurang di tempat mewah tersebut Bel berbunyi di Hanphone saya yang berarti sudah menunjukan pukul 20:30. Kami bergegas untuk pergi berkumpul dengan saudara lain yang bertempat di Samping Mc Donald. Sesampai disana, kami menyampaikan apa yang kami peroleh dalam menyelesaikan tugas tersebut agar saudara lain bisa mempelajari pula apa yang telah kami alami saat proses mengerjakan tugas tersebut. Ada saudara kami yang belum selesai mengerjakan tugas dan ada pula saudara kami yang telah mengerjakan tugas. Meskipun rasa terkoyak-koyak didalam badan, kami tidak mengeluh mengenai tugas yang diberikan oleh anggota resmi LPMSM. Setelah itu kami langsung mencari angkot untuk pergi ketempat tujuan selanjutnya yaitu Taman Bungkul Surabaya. Seperti yang dilakukan sebelumnya, kami bernegoisasi terlebih dahulu dengan sopir angkot untuk menghemat keuangan Negoisasi tersebut tidak sia-sia karena kami mendapat harga yang lebih murah daripada harga yang seharusnya. Dengan hati senang kami naik ke angkot dan memulai perjalanan di Taman Bungkul. Saat sampai disana, kami langsung diberi tugas oleh anggota resmi LPMSM, seperti sebelumnya namun profil yang dimintai keterangan berbeda yaitu pengunjung, komunitas dan pedagang. Dalam pembagian kelompok, saya tidak mendapat teman kerja oleh karena itu, saya melaksanakan tugas sendirian. Meskipun, sendirian saya tidak merasa kesepian karena saya percaya bahwa anggota resmi LPMSM masih memantau kegiatan yang dilakukan anggota LPMSM sehingga saya merasa aman. Kami diberi waktu hanya 1 jam sehingga ketika pukul 23:00 kami berkumpul kembali ketempat yang sudah ditentukan oleh sang pemberi ketentuan. Ketika sampai disana kita berdiskusi mengenai apa saja yang kita peroleh ketika mengerjakan tugas tersebut. Dan hasil dari diskusi tersebut cukup bermanfaat karena berbeda ketika kami mengerjakan tugas di Tunjungan Plaza. Ketika di Tunjungan Plaza, kita menganggap bahwa sebagian besar orang-orang tersebut bersifat kapitalis. Sedangkan di Taman Bungkul, kita menganggap sebagian orang-orang memiliki sifat menghargai yang tinggi. Selanjutnya, kami menuju tempat ketiga yaitu Bandempo. Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, meskipun badan sudah diambang batas untuk melakukan kegiatan tetapi, kami dengan semangat militer masih tetap melanjutkan perjalanan ke Bandempo. Ketika sampai di Pulo Wonokromo, kami diberi arahan oleh anggota resmi LPMSM serta tidak lupa juga tugas untuk mengamati serta berinteraksi dengan orang-orang disana sampai 1 jam. Ketika awal memasuki Bandempo, saya melihat segerombolan orang dan pelacur. Saya berkelompok dengan saudaraku. Ia wanita oleh karena itu, saya harus menjaganya dengan baik dan tidak memasuki daerah haram ( kata masyarakat) secara dalam untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan. Kegelapan mewarnai kegiatan disana yang membuat suasana semakin menyeramkan. Kami berjalan kemudian berhenti dan duduk di atas rel kereta api untuk mengawasi apa saja yang ada disana. Setelah 45 menit kami berkumpul kembali ke tempat yang sudah diarahkan. Dengan ditemani oleh sunyinya kegelapan, kami berdiskusi mengenai apa yang ada disana. Dengan adanya hal yang tabu, kami berkesimpulan bahwa Bandempo adalah tempat perjudian dan pelacuran. Meskipun begitu, kami tidak memandang rendah mereka karena mereka telah mengajarkan bagaimana kerasnya mencari sejumlah kertas untuk ditukar dengan barang. Bahkan, ada pula sebagian dari kami yang menganggap bahwa orang-orang tersebut lebih baik dari pada orang-orang yang bekerja di Istana dengan memakai jas rapi dan dasi berwarna. Mereka cukup pintar untuk mengasuh segerombolan ayam. Hehehe.... Ketika pukul 05:30, kami pergi ketempat selanjutnya yaitu Pasar Waru dengan menggunakan jasa transportasi berupa angkot. Setelah kami sampai di Pasar Waru, kami langsung bergegas ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat shubuh, namun tanpa sadar kami ketiduran di masjid hingga pukul 06:20. Hati bergejolak ketika kulihat jam menunjukan bahwa kita telat dan tidak sesuai apa yang diperintahkan oleh anggota resmi LPMSM. Dengan perasaan takut kami kembali ke depan Pasar Waru untuk menemui tim panitia. Namun ternyata, tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan, malahan tim panitia malah memberi saya sebatang rokok dan mengarahkan kita untuk berkumpul dan memberikan tugas. Tanpa mengenal rasa lelah, kami mulai mencari orang untuk dimintai keterangan. Orang tersebut adalah 3 pengunjung dan 3 pedagang. Setelah memenuhi tugas, kami kembali menuju ketempat yang ditunjuk sebagai habitat untuk kembali. Dengan kepercayaan dan kebanggaan diri, masing-masing dari kelompok mulai untuk mempersembahkan hasilnya. Yang didapat ternyata cukup familiar yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup, manusia akan berkumpul dimana tempat tersebut dapat memenuhi kebutuhannya. Sebuah ilmu dapat diperoleh melalui apa saja hal apabila kita menekuninya, oleh karena itu kami bergegas ke tempat selanjutnya yaitu Terminal Bungurasih. Kesehatan dapat diperoleh dari berolah raga, dengan pemikiran seperti itu kami berangkat ke Terminal Bungurasih dengan berjalan kaki walaupun kaki yang dirasa sudah mati. Tulisan besar dan kokoh lah yang kulihat ketika awal masuk ke Terminal Bungurasih. Dengan minghiraukan rasa capek, kami bergegas untuk berkupumpul bersama tim panitia ditempat yang telah ditentukan. Rasa liar akan makan dan haus menghiasi perjalanan kami. Dan akhirnya, kami telah sampai ke tempat berkumpul yang sudah ditentukan Setelah kami sampai, suara kendaraan akbar menemani diskusi bersama. Kelompok telah terbentuk dan tugas telah disampaikan, dengan rasa putus asa kami mulai mengerjakan tugas tersebut walau, badan dipenuhi dengan luka pedang kekaisaran Surgawi. Kami tidak putus asa. Orang yang kelompokku tuju adalah 2 sopir, 1 kernet, 2 pengunjung, 1 pengamen ,pedagang asongan. Banyak hal-hal baru yang mudah dijumpai ketika disana. Tugas yang diberikan telah terselesaikan dan kami mulai berdiskusi mengenai apa saja yang kita peroleh dari proses mengerjakan tugas mulia itu. Pengalaman dapat diperoleh dari manapun oleh karena itu, kita harus senantiasa menimba ilmu walau kapanpun, dimanapun dan dari siapapun. Setelah itu kami mencari bus P4 yang bertujuan ke Tanjung perak. Bus Damri yang beruntung kita jumpai namun, kita tidak menawar harga lagi karena harga tersebut sudah ketentuan dari pihak yang berwewenang. Dengan rasa nyaman, bus melaju ke Tanjung Perak. Sesampai disana kami, menawar harga untuk memakai jasa transportasi yaitu kapal. Kami mendapat harga yang murah akibat kelihaian dalam bernegoisasi teman kami. Bertepatan dengan kedatangan kapal, kami langsung bergegas masuk ke dalam kapal untuk bisa sampai di Pulau Madura. Sesampai dipulau Madura kami langsung berangkat ke Sekretariat yang bertempat di UTM. Waktu menunjukan pukul 14:00, kami telah sampai di Sekretariat. Begitulah akhir dari cerita perjalanan saya, baik hal baik dan hal buruk dapat dipelajari apabila kita berusaha untuk mencari hal yang dapat bermanfaat bagi kita. Dari hal sesuatu yang kecil ke sesuatu hal yang besar dapat berpengaruh dalam kehidupan. Oleh karena itu, kita tidak boleh untuk meremehkan sesuatu hal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI NOVEL DRAMA MANGIR

Bentuk Kasih Sayang Seorang Nh. Dini

Misteri Kinerja Kemensos